Senin, 16 September 2013

Sound Of Biola

“Taeyeon, kau lihat biola milikku?” Tiffany mulai mencari biola kecil miliknya. Ia membuka lemari dan laci dikamar asrama.
            “Tidak, Tiffany, jangan bergerak dulu, lukamu belum sembuh!” Taeyeon mengejar Tiffany— sambil membawa plester—, dan mencoba merekatkannya di dahi Tiffany.
“Jangan menempelkan dulu, aku mau cari biola milikku Eonni, sepertinya tadi kutaruh dekat sini... kok hilang, sih?” Jawab Tiffany. Ia membalikkan bantal dan menemukan Biola Cokelat miliknya. “ah, ini dia!” Tiffany kemudian mengambil biola itu dan memeluknya.
            “Aku harap kau jangan bergerak terus, lukamu belum sembuh, kenapa kau sangat perhatian dengan bi—”
            “Lusa ada konser biola dan aku harus bisa!”
            “Itu lusa, jangan memaksakan diri, ne. Kau bisa sakit dan bisa pingsan terus menerus.” Taeyeon menepuk pundak Tiffany. Tiffany hanya tersenyum dan memeluk Taeyeon. “Aku tahu, sekarang, aku ingin tanya. Kenapa kau sangat perhatian padaku?”
            “Karena kau sahabatku, dan aku sudah menganggapmu adik sendiri, bagaimana denganmu?”
            “Ne, aku juga. Aku sayang Taeyeon eonni, selamanya.” Taeyeon tersenyum dengan mata yang berkaca kaca. Sambil memeluk, ia membatin, aku tahu, Fany, kau begitu sayang padaku, tapi.. aku tak tahu kalau semisalnya hidupmu tinggal beberapa bulan atau tahun lagi. Walaupun kau sakit, dibully, jangan pernah sedih, aku selalu disampingmu dimanapun kau berada.





            Ah— aku lupa memberi tahu nama mereka. Tiffany Hwang, gadis berambut hitam dengan ciri berkuncir dua itu mempunyai fisik yang lemah. Ia sakit - sakitan
semenjak ditinggal Ibu-nya. Ia menderita sakit Kanker Darah atau Leukimia. Se-
dangkan Taeyeon, ia adalah sahabat Tiffany dari bayi hingga dewasa. Taeyeon berambut pirang dengan ciri khas dikuncir satu memiliki fisik yang kuat. Ia sangat sayang pada Tiffany, bahkan, ia selalu berharap bahwa mereka adalah saudara. Taeyeon dan Tiffany adalah yatim piatu yang tinggal di asrama Seoul. Tiffany se-
lalu dibully oleh teman – teman asramanya. Taeyeon yang selalu berada di samping Tiffany merasa bahwa kedudukannya sebagai sahabat Tiffany diremehkan, sehing- ga ia terus membela Tiffany sampai ia luka.
           

“Tiffany, keadaanmu setiap hari semakin memburuk, apa sebaiknya kita tak pergi ke dokter saja?” Taeyeon mengusap lembut kepala Tiffany dan rambut Tiffany mulai rontok. Tiffany yang sedang berbaring di tempat tidur berkata, “Tidak apa apa kok, Tae. Aku sudah kuat, kok! Lihat, aku bisa lompat lompat dan—”
            BRUK! Tiffany melompat dan terpeleset kantong plastik Go Green miliknya. “Auch, bokong-ku!” Tiffany mengelus bokongnya yang terasa sakit karena terantuk lantai kamar asrama.
Taeyeon tertawa, diikuti tawa Tiffany.
            “Dan, lagipula, biaya rumah sakit itu mahal, Taeng, sedangkan aku hanya punya uang dua ratus ribu! Mungkin, kalau dirawat, bisa sampai dua juta!” Sambil berusaha bangun, Tiffany duduk di samping kursi Taeyeon.
            “Lalu... aku sudah cukup dirawat denganmu.” Tiffany mendekatkan kursinya ke wajah Taeyeon. “Tapi, kalau kau dirawat denganku, kau tak akan sembuh! Hiks,” Taeyeon mengangkat tangannya ke arah air yang membasahi pipinya.
            “Jangan menangis, walaupun tak sembuh-sembuh, aku juga sudah senang mendapat kasih sayang dan perawatan dari calon dokter, ehm. Maksudku, doktor Taeng.” Tiffany berdeham sambil terkekeh.
Taeyeon terdiam.
            “Ya, sewaktu-waktu, apabila mimpiku tercapai, aku akan menyembuhkanmu dengan gratis.” Taeyeon menghapus air matanya sambil ikut terkekeh. Ia memegang pipi Tiffany dan mencium dahinya.
            “Aku sayang padamu, Tiff.”
            “Aku juga, Taeng. Tunggu, kau mau tidak, dengarkan aku bermain biola?” Dengan semangat, walaupun ia masih lemas, ia berlari ke biolanya. Taeyeon mengangguk gembira. Tiffany bungkuk dan bermain biolanya.
            Dari kegembiraan Tiffany, aku tahu, hatinya pasti sedang menangis sambil merasakan sakitnya, aku tahu itu. Maafkan aku, Tiff, aku tidak bisa menjadi kakak yang baik untukmu. Taeyeon kembali membatin dan kembali mengeluarkan air mata.


            “Selamat pagi, Tiffany! Kau boleh tidur lagi, dan aku sudah siapkan makanan untuk sarapan, aku pergi ke ruang osis dulu, ya!” Taeyeon membangunkan Tiffany sambil menunjuk ke arah makanan diatas meja. Tiffany mengangguk. “Hati hati, Taeeeng!”
            Taeyeon berlari ke ruang osis dan bertemu dengan Yuri dan Yoona. Maksudnya, Kwon Yuri dan Im YoonA. Taeyeon melambai ke arahnya. “Annyeong, Taeyeon! Hei kau tahu, Tiffany mencuri baju milik Jessica dan jam tangan milik Hyoyeon! Kau, kalau tak percaya lihatlah ke kamar Jessica dan aku, disana banyak anak anak dan Jessica yang sedang menangis karena baju pemberian ayahnya hilang, dicuri Tiffany. Oke, aku dan Yoona pergi ke bawah dulu, ya! Bye!”
            Taeyeon menghentikan langkahnya. Ia kaget, apa benar, Tiffany mencuri baju Jessica dan jam tangan Hyoyeon? Ia memutar badannya dan pergi ke kamar Jessica dan Hyoyeon.

Sesampai –nya di kamar Jessica, Jessica menoleh ke arah Taeyeon dan memeluknya. “Taeng, baju oemberian ayahku dicuri Tiffany... Huhuhu..”
            “Hah? Darimana kau tahu itu?”
            “Kau lihat saja di lemarinya, terdapat baju tulisan ‘IM A QUEEN’ dan terdapat gambar apel di belakangnya.. Huhu...”
            “Tak mungkin, bisa saja, kalau Tiffany membeli baju yang sama denganmu, itu mungkin kan?”

Jessica menggeleng.
            “Itu baju milikku dan hanya ada di Australia dengan harga satu juta. Hiks,hiks!”
Taeyeon mengernyitkan dahi dan mulai percaya dengan Jessica. Kini, ia berubah pikiran, ia sangat benci dengan orang yang menjadi pencuri. Ia membungkuk dan melambai ke Jessica. Ia tak butuh lagi dengan cerita Hyoyeon. Dengan secepat kilat, ia kembali kekamar.

BRAK!!
            “Emak! ...Ehm,  eh, Taeng, gak jadi rapat?” Tiffany meloncat dan segera menjadi latahan.
            “NGGAK.” Dengan dingin, Taeyeon melemparkan tasnya dan segera membuka lemari milik Tiffany. “Ada apa, Eonni? Kok, dingin sih?” Tiffany bangkit dengan lemas dan melihat Taeyeon yang sedang terkaget kaget dengan lemari Tiffany.
Ternyata benar, itu baju milik Jessica! Tiffany memang mencurinya!  “Aku muak denganmu, pencuri!” Taeyeon mengbaskan rambutnya dan berbali ke arah Tiffany. Tiffany terheran heran.
            “Maksudmu?”
            “Aku muak! Kau mencuri baju Jessica, kan?!”
            “Ti—”
            “Aku gak butuh alasan kamu! Dasar pencuri! Ini dia, inikan baju milik Jessica! Tuh, makan bajunya!”
            Taeyeon melempar baju yang dipermasalahkan kepada Tiffany lengkap dengan gantungan kayu-nya. PRAK! Gantungan kayu itu mengenai wajah Tiffany sampai merah. Taeyeon sempat merasa bersalah, tapi, ia segera mengusir pikiran bersalah itu.
            “Tunggu! Tulisan di jam ini... KIM HYOYEON? Pencuri! Kau mencuri jam tangan Hyoyeon, ya?! Aku malu, punya sahabat seperti kau! Enyah saja, pencuri di Seoul!”
            “Kok, bisa ada di aku?! Sungguh, aku tidak... aww!” Tiffany memegangi wajahnya yang terkena gantungan kayu.
            “Sudah, aku mau keluar!” Taeyeon membuka pintu dan segera keluar kamar. Tiffany memperhatikannya. Aku tidak mencuri itu, aku tidak mencuri, aku bukan pencuri! Tiffany mengacak rambutnya dan segera meneteskan air mata.

Lalu, Taeyeon.....
            “Huh, rasakan. Tunggu.... apa aku terlalu berlebihan, ya? Ehm... sepertinya sih, iya. Aku akan minta maaf padanya.” Taeyeon bangkit dari kursi taman setelah beberapa menit ia berfikir.
            Taeyeon berjalan ke arah kamar asrama dan membuka pintu. Terdapat Tiffany yang sedang tersungkur di lantai dan memar memar. Tiffany pingsan! Taeyeon buru buru ke arah Tiffany dan menemukan gambar di samping Tiffany.
            Deg! Taeyeon sangat sebal melihat gambar itu. Di gambar itu, terdapat dirinya yang sangaaat jelek. Taeyeon menjenggut rambut Tiffany sampai beberapa rontok. Taeyeon sangat benci dengan Tiffany sekarang. Ia melemparkan kertas itu ke Tiffany dan meninggalkan Tiffany yang memar memar.


Esok harinya...
Tiffany bangun dan tak menemui siapa siapa di kamarnya. Tak ada makanan, tak ada orang. Seperti kuburan. Ia bangkit dan segara mengingat bahwa hari ini ia harus pergi bermain biola. Ia mandi, dan memakai baju. Benar benar tak ada orang. Taeyeon kemana, ya? Padahal, aku ingin mengajaknya menonton denganku! Batin Tiffany yang membuka pintu asrama.

            BRUK!!
Tiffany terjatuh karena diserengkat oleh seseorang. Ia melihat kebawah, dan terdapat tiga perempuan berbaju hitam dan membawa Tiffany masuk ke kamar asramanya. Tiffany tak bisa berbuat apa apa karena ia sedang lemas.
Tiffanay didorong ke lantai sampai membentur lantai. Salah seorang dari mereka yang berambut cokelat gelap segera melempar Tiffany dengan tongkat Baseball. “Aaaa! Siapa kalian?! Aku... aku ingin segera pergi ke pentas!”
            “JANGAN BANYAK BICARA! TIFFANY... KAU TELAH MEMBUATKU TERSINGKIR DI KURSUS BIOLA DAN KAU INGAT? KAU PERNAH MEMBUAT DUA SAUDARAKU JATUH DARI MOBIL DAN KOMA... KAU INGAT?..”
            “Ah.., kau... kau Yoona?! Tidak, Yoon, aku tak membuat Seohyun dan Sunny terjatuh dari mobil, mereka meloncat loncat dan pintu mobil terbuka, sungguh, aku tak mendorongnya!”
            “ALASAN SAJA! KAU JUGA... TELAH MEMBUAT PRESTASI DALAM MENARIKU MENJADI TURUN DIGANTIKAN OLEHMU... DAN KAU PERNAH MENDORONGKU SAMPAI MASUK KE GOT DIDEPAN DONGHAE...”
            “Kau... Yuri?! Tidak! Aku, waktu itu terdorong! Demi tuhan! Percayalah!”
            “KAU JUGA... KAU TELAH MEMBUATKU PATAH TULANG TANGAN KARENA KAN MENYANDUNGKU SAAT PENTAS SIRKUS...”
            “Sica?! Maaf, saat itu aku tak bermaksud menyandungmu! Aku sedang bermain karet dengan Sooyoung!”
            Segera, biola Tiffany diinjak oleh seseorang berambut pirang. Tiffany dipukuli sampai pingsan. Setelah puas, mereka bertiga kabur meninggalkan Tiffany.

Beberapa saat kemudian.....
            “Aku pulang. ?!!!! Tiffany?!!” Taeyeon menjerit kaget melihat Tiffany tergeletak lemas tak berdaya dengan memar memar, vas bunga pecah, dan air mata mengalir di pipi serta... DARAH.
            “Fany, bangun! Bangun!” Taeyeon menepuk pipi Tiffany yang basah, tapi Tiffany tak bangun juga. Taeyeon meneteskan air matanya sangat deras dan memanggil ambulans.
            Sebelum meninggalkan ruangan, di genggaman tangan Tiffany terdapat kertas usang. Taeyeon tak sempat membaca. Ia panik dan segera menggotong Tiffany ke arah ambulans.
Di Rumah Sakit...

            “Kim Taeyeon, maafkan kami, kami sudah berusaha sekuat mungkin. Tapi, Nyonya Tiffany tak kunjung sembuh. Ia mengalami leukimia stadium dua, dan pukulan yang keras di kepalanya. Maafkan kami,” Doktor CL memberi tahu keadaan Tiffany dengan suster Minzy.
            “Jadi... maksud dokter.... Tiffany... meninggal?”
            Dokter CL dan suster Minzy saling menatap dangan mengangguk. Taeyeon hampir mati ditempat. Ia menangis, berteriak, dan memukul mukul wajahnya sendiri. Mungkin, beberapa orang yang lewat mengatakan bahwa Taeyeon adalah orang gi- la.
            “AKU BODOH! AKU TAU, TIFFANY PASTI TAK AKAN MELAKUKANNYA! KINI, IA MATI! INI SALAHKU! EOMMA HUAAAA! 
L” Taeyeon menangis deras menutupi wajahnya. Ia sangat kesal dengan dirinya dan orang yang memukuli Tiffany.
            Taeyeon masuk ke ruangan sambil menciumi dahi Tiffany dan meneteskan air matanya ke pipi Tiffany. “BANGUN, TIFFANY!! KAU KUAT, AKU YAKIN! KAU INGAT KAN? Kau pernah berkata, bahwa, sebelum aku dan kau mencapai impian kita, kau tak akan mati, kan?! Kau lupa?! Tapi, janji itu sekarang bagaikan pasir yang terhanyut ombak! Maafkan aku, Tiff! BANGUN HWANG, BANGUN!! KAU KUAT!! LALU..... SEHARUSNYA, KAU PENTAS BIOLA HARI INI! Maafkan aku sebesar besarnya, aku tahu, aku telah diperalat oleh semuanya! Tiff! Bangun,” Taeyeon memenggenggam tangan Tiffany yang dingin dan tak lupa menciumi dahi dan pipinya.
            Taeyeon menunggu jawaban Tiffany. Tak ada jawaban, Tiffany pun tak kunjung menjawab. Taeyeon putus asa. “Tiffany, jangan membenci aku... maafkan aku, kumohon... Hari ini bukannya hari yang menyenangkan? Kenapa... malah menjadi hari yang sangat menyedihkan?”
            Taeyeon naik ke ranjang Tiffany dan tidur disamping Tiffany. Mendadak, ia teringat kertas usang yang di genggam Tiffany. Ia membuka perlahan lahan kertas itu.

Taeyeon, aku tahu, ajalku sudah sebentar lagi. Aku sudah merasakannya. Tapi.. kenapa kau malah menjauhi ku? Demi tuhan, Taeng, percayalah bahwa aku tak pernah mencuri. Sekarang aku tahu, semua barang itu ditaruh Hyoyeon, Yuri, YoonA, dan Jessica agar aku dituduh pencuri.
          Maafkan aku, Taeng, aku hanya bisa menjadi beban dan mempermalukanmu. Aku memang tidak berguna 
J. Buktinya, aku dibuang orang tuaku. Dan, ternyata aku memang tipe yang selalu dibenci. Ohya, satu hal, eonni. Aku tak pernah menggambar wajahmu sejelek itu. Ehm, waktu itu aku pingsan karena aku tersandung kulit pisang milikku :D. Jangan khawatir, aku KUAT!! Aku berusaha melawan ajal, ne!!! TIFFANY, FIGHTINGG!!! /’-‘/
          Oh, Lihat di mejaku, aku membuat gambar kita berdua! Maaf kalau jelek. Tae, aku harap kamu membuat surat ini menjadi kenang  kenangan. Aku mencintaimu, Kim Taeyeon, walau kau membenciku. Tak masalah, aku hanya ingin kita menjadi sahabat yang paling akrab sedunia. SARANGHAE KIM TAEYEON, Kakakku :*
-Tiffany Hwang
            “Maafkan aku Tiffany.... aku telah menjadi Kakak yang gagal..., maafkan aku...” Air mata Taeyeon melunturi surat yang Tiffany buat. Taeyeon sangat sedih hari itu. Ia memalingkan pandangan ke dinding dan...

Muncul arwah Tiffany sedang melambaikan tangan ke arah Taeyeon. Ia berbisik.


            “Kau kakak yang terbaik sepanjang masa,” Kemudian ia memainkan biolanya.

Sound Of Biola

“Taeyeon, kau lihat biola milikku?” Tiffany mulai mencari biola kecil miliknya. Ia membuka lemari dan laci dikamar asrama.
            “Tidak, Tiffany, jangan bergerak dulu, lukamu belum sembuh!” Taeyeon mengejar Tiffany— sambil membawa plester—, dan mencoba merekatkannya di dahi Tiffany.
“Jangan menempelkan dulu, aku mau cari biola milikku Eonni, sepertinya tadi kutaruh dekat sini... kok hilang, sih?” Jawab Tiffany. Ia membalikkan bantal dan menemukan Biola Cokelat miliknya. “ah, ini dia!” Tiffany kemudian mengambil biola itu dan memeluknya.
            “Aku harap kau jangan bergerak terus, lukamu belum sembuh, kenapa kau sangat perhatian dengan bi—”
            “Lusa ada konser biola dan aku harus bisa!”
            “Itu lusa, jangan memaksakan diri, ne. Kau bisa sakit dan bisa pingsan terus menerus.” Taeyeon menepuk pundak Tiffany. Tiffany hanya tersenyum dan memeluk Taeyeon. “Aku tahu, sekarang, aku ingin tanya. Kenapa kau sangat perhatian padaku?”
            “Karena kau sahabatku, dan aku sudah menganggapmu adik sendiri, bagaimana denganmu?”
            “Ne, aku juga. Aku sayang Taeyeon eonni, selamanya.” Taeyeon tersenyum dengan mata yang berkaca kaca. Sambil memeluk, ia membatin, aku tahu, Fany, kau begitu sayang padaku, tapi.. aku tak tahu kalau semisalnya hidupmu tinggal beberapa bulan atau tahun lagi. Walaupun kau sakit, dibully, jangan pernah sedih, aku selalu disampingmu dimanapun kau berada.





            Ah— aku lupa memberi tahu nama mereka. Tiffany Hwang, gadis berambut hitam dengan ciri berkuncir dua itu mempunyai fisik yang lemah. Ia sakit - sakitan
semenjak ditinggal Ibu-nya. Ia menderita sakit Kanker Darah atau Leukimia. Se-
dangkan Taeyeon, ia adalah sahabat Tiffany dari bayi hingga dewasa. Taeyeon berambut pirang dengan ciri khas dikuncir satu memiliki fisik yang kuat. Ia sangat sayang pada Tiffany, bahkan, ia selalu berharap bahwa mereka adalah saudara. Taeyeon dan Tiffany adalah yatim piatu yang tinggal di asrama Seoul. Tiffany se-
lalu dibully oleh teman – teman asramanya. Taeyeon yang selalu berada di samping Tiffany merasa bahwa kedudukannya sebagai sahabat Tiffany diremehkan, sehing- ga ia terus membela Tiffany sampai ia luka.
           

“Tiffany, keadaanmu setiap hari semakin memburuk, apa sebaiknya kita tak pergi ke dokter saja?” Taeyeon mengusap lembut kepala Tiffany dan rambut Tiffany mulai rontok. Tiffany yang sedang berbaring di tempat tidur berkata, “Tidak apa apa kok, Tae. Aku sudah kuat, kok! Lihat, aku bisa lompat lompat dan—”
            BRUK! Tiffany melompat dan terpeleset kantong plastik Go Green miliknya. “Auch, bokong-ku!” Tiffany mengelus bokongnya yang terasa sakit karena terantuk lantai kamar asrama.
Taeyeon tertawa, diikuti tawa Tiffany.
            “Dan, lagipula, biaya rumah sakit itu mahal, Taeng, sedangkan aku hanya punya uang dua ratus ribu! Mungkin, kalau dirawat, bisa sampai dua juta!” Sambil berusaha bangun, Tiffany duduk di samping kursi Taeyeon.
            “Lalu... aku sudah cukup dirawat denganmu.” Tiffany mendekatkan kursinya ke wajah Taeyeon. “Tapi, kalau kau dirawat denganku, kau tak akan sembuh! Hiks,” Taeyeon mengangkat tangannya ke arah air yang membasahi pipinya.
            “Jangan menangis, walaupun tak sembuh-sembuh, aku juga sudah senang mendapat kasih sayang dan perawatan dari calon dokter, ehm. Maksudku, doktor Taeng.” Tiffany berdeham sambil terkekeh.
Taeyeon terdiam.
            “Ya, sewaktu-waktu, apabila mimpiku tercapai, aku akan menyembuhkanmu dengan gratis.” Taeyeon menghapus air matanya sambil ikut terkekeh. Ia memegang pipi Tiffany dan mencium dahinya.
            “Aku sayang padamu, Tiff.”
            “Aku juga, Taeng. Tunggu, kau mau tidak, dengarkan aku bermain biola?” Dengan semangat, walaupun ia masih lemas, ia berlari ke biolanya. Taeyeon mengangguk gembira. Tiffany bungkuk dan bermain biolanya.
            Dari kegembiraan Tiffany, aku tahu, hatinya pasti sedang menangis sambil merasakan sakitnya, aku tahu itu. Maafkan aku, Tiff, aku tidak bisa menjadi kakak yang baik untukmu. Taeyeon kembali membatin dan kembali mengeluarkan air mata.


            “Selamat pagi, Tiffany! Kau boleh tidur lagi, dan aku sudah siapkan makanan untuk sarapan, aku pergi ke ruang osis dulu, ya!” Taeyeon membangunkan Tiffany sambil menunjuk ke arah makanan diatas meja. Tiffany mengangguk. “Hati hati, Taeeeng!”
            Taeyeon berlari ke ruang osis dan bertemu dengan Yuri dan Yoona. Maksudnya, Kwon Yuri dan Im YoonA. Taeyeon melambai ke arahnya. “Annyeong, Taeyeon! Hei kau tahu, Tiffany mencuri baju milik Jessica dan jam tangan milik Hyoyeon! Kau, kalau tak percaya lihatlah ke kamar Jessica dan aku, disana banyak anak anak dan Jessica yang sedang menangis karena baju pemberian ayahnya hilang, dicuri Tiffany. Oke, aku dan Yoona pergi ke bawah dulu, ya! Bye!”
            Taeyeon menghentikan langkahnya. Ia kaget, apa benar, Tiffany mencuri baju Jessica dan jam tangan Hyoyeon? Ia memutar badannya dan pergi ke kamar Jessica dan Hyoyeon.

Sesampai –nya di kamar Jessica, Jessica menoleh ke arah Taeyeon dan memeluknya. “Taeng, baju oemberian ayahku dicuri Tiffany... Huhuhu..”
            “Hah? Darimana kau tahu itu?”
            “Kau lihat saja di lemarinya, terdapat baju tulisan ‘IM A QUEEN’ dan terdapat gambar apel di belakangnya.. Huhu...”
            “Tak mungkin, bisa saja, kalau Tiffany membeli baju yang sama denganmu, itu mungkin kan?”

Jessica menggeleng.
            “Itu baju milikku dan hanya ada di Australia dengan harga satu juta. Hiks,hiks!”
Taeyeon mengernyitkan dahi dan mulai percaya dengan Jessica. Kini, ia berubah pikiran, ia sangat benci dengan orang yang menjadi pencuri. Ia membungkuk dan melambai ke Jessica. Ia tak butuh lagi dengan cerita Hyoyeon. Dengan secepat kilat, ia kembali kekamar.

BRAK!!
            “Emak! ...Ehm,  eh, Taeng, gak jadi rapat?” Tiffany meloncat dan segera menjadi latahan.
            “NGGAK.” Dengan dingin, Taeyeon melemparkan tasnya dan segera membuka lemari milik Tiffany. “Ada apa, Eonni? Kok, dingin sih?” Tiffany bangkit dengan lemas dan melihat Taeyeon yang sedang terkaget kaget dengan lemari Tiffany.
Ternyata benar, itu baju milik Jessica! Tiffany memang mencurinya!  “Aku muak denganmu, pencuri!” Taeyeon mengbaskan rambutnya dan berbali ke arah Tiffany. Tiffany terheran heran.
            “Maksudmu?”
            “Aku muak! Kau mencuri baju Jessica, kan?!”
            “Ti—”
            “Aku gak butuh alasan kamu! Dasar pencuri! Ini dia, inikan baju milik Jessica! Tuh, makan bajunya!”
            Taeyeon melempar baju yang dipermasalahkan kepada Tiffany lengkap dengan gantungan kayu-nya. PRAK! Gantungan kayu itu mengenai wajah Tiffany sampai merah. Taeyeon sempat merasa bersalah, tapi, ia segera mengusir pikiran bersalah itu.
            “Tunggu! Tulisan di jam ini... KIM HYOYEON? Pencuri! Kau mencuri jam tangan Hyoyeon, ya?! Aku malu, punya sahabat seperti kau! Enyah saja, pencuri di Seoul!”
            “Kok, bisa ada di aku?! Sungguh, aku tidak... aww!” Tiffany memegangi wajahnya yang terkena gantungan kayu.
            “Sudah, aku mau keluar!” Taeyeon membuka pintu dan segera keluar kamar. Tiffany memperhatikannya. Aku tidak mencuri itu, aku tidak mencuri, aku bukan pencuri! Tiffany mengacak rambutnya dan segera meneteskan air mata.

Lalu, Taeyeon.....
            “Huh, rasakan. Tunggu.... apa aku terlalu berlebihan, ya? Ehm... sepertinya sih, iya. Aku akan minta maaf padanya.” Taeyeon bangkit dari kursi taman setelah beberapa menit ia berfikir.
            Taeyeon berjalan ke arah kamar asrama dan membuka pintu. Terdapat Tiffany yang sedang tersungkur di lantai dan memar memar. Tiffany pingsan! Taeyeon buru buru ke arah Tiffany dan menemukan gambar di samping Tiffany.
            Deg! Taeyeon sangat sebal melihat gambar itu. Di gambar itu, terdapat dirinya yang sangaaat jelek. Taeyeon menjenggut rambut Tiffany sampai beberapa rontok. Taeyeon sangat benci dengan Tiffany sekarang. Ia melemparkan kertas itu ke Tiffany dan meninggalkan Tiffany yang memar memar.


Esok harinya...
Tiffany bangun dan tak menemui siapa siapa di kamarnya. Tak ada makanan, tak ada orang. Seperti kuburan. Ia bangkit dan segara mengingat bahwa hari ini ia harus pergi bermain biola. Ia mandi, dan memakai baju. Benar benar tak ada orang. Taeyeon kemana, ya? Padahal, aku ingin mengajaknya menonton denganku! Batin Tiffany yang membuka pintu asrama.

            BRUK!!
Tiffany terjatuh karena diserengkat oleh seseorang. Ia melihat kebawah, dan terdapat tiga perempuan berbaju hitam dan membawa Tiffany masuk ke kamar asramanya. Tiffany tak bisa berbuat apa apa karena ia sedang lemas.
Tiffanay didorong ke lantai sampai membentur lantai. Salah seorang dari mereka yang berambut cokelat gelap segera melempar Tiffany dengan tongkat Baseball. “Aaaa! Siapa kalian?! Aku... aku ingin segera pergi ke pentas!”
            “JANGAN BANYAK BICARA! TIFFANY... KAU TELAH MEMBUATKU TERSINGKIR DI KURSUS BIOLA DAN KAU INGAT? KAU PERNAH MEMBUAT DUA SAUDARAKU JATUH DARI MOBIL DAN KOMA... KAU INGAT?..”
            “Ah.., kau... kau Yoona?! Tidak, Yoon, aku tak membuat Seohyun dan Sunny terjatuh dari mobil, mereka meloncat loncat dan pintu mobil terbuka, sungguh, aku tak mendorongnya!”
            “ALASAN SAJA! KAU JUGA... TELAH MEMBUAT PRESTASI DALAM MENARIKU MENJADI TURUN DIGANTIKAN OLEHMU... DAN KAU PERNAH MENDORONGKU SAMPAI MASUK KE GOT DIDEPAN DONGHAE...”
            “Kau... Yuri?! Tidak! Aku, waktu itu terdorong! Demi tuhan! Percayalah!”
            “KAU JUGA... KAU TELAH MEMBUATKU PATAH TULANG TANGAN KARENA KAN MENYANDUNGKU SAAT PENTAS SIRKUS...”
            “Sica?! Maaf, saat itu aku tak bermaksud menyandungmu! Aku sedang bermain karet dengan Sooyoung!”
            Segera, biola Tiffany diinjak oleh seseorang berambut pirang. Tiffany dipukuli sampai pingsan. Setelah puas, mereka bertiga kabur meninggalkan Tiffany.

Beberapa saat kemudian.....
            “Aku pulang. ?!!!! Tiffany?!!” Taeyeon menjerit kaget melihat Tiffany tergeletak lemas tak berdaya dengan memar memar, vas bunga pecah, dan air mata mengalir di pipi serta... DARAH.
            “Fany, bangun! Bangun!” Taeyeon menepuk pipi Tiffany yang basah, tapi Tiffany tak bangun juga. Taeyeon meneteskan air matanya sangat deras dan memanggil ambulans.
            Sebelum meninggalkan ruangan, di genggaman tangan Tiffany terdapat kertas usang. Taeyeon tak sempat membaca. Ia panik dan segera menggotong Tiffany ke arah ambulans.
Di Rumah Sakit...

            “Kim Taeyeon, maafkan kami, kami sudah berusaha sekuat mungkin. Tapi, Nyonya Tiffany tak kunjung sembuh. Ia mengalami leukimia stadium dua, dan pukulan yang keras di kepalanya. Maafkan kami,” Doktor CL memberi tahu keadaan Tiffany dengan suster Minzy.
            “Jadi... maksud dokter.... Tiffany... meninggal?”
            Dokter CL dan suster Minzy saling menatap dangan mengangguk. Taeyeon hampir mati ditempat. Ia menangis, berteriak, dan memukul mukul wajahnya sendiri. Mungkin, beberapa orang yang lewat mengatakan bahwa Taeyeon adalah orang gi- la.
            “AKU BODOH! AKU TAU, TIFFANY PASTI TAK AKAN MELAKUKANNYA! KINI, IA MATI! INI SALAHKU! EOMMA HUAAAA! 
L” Taeyeon menangis deras menutupi wajahnya. Ia sangat kesal dengan dirinya dan orang yang memukuli Tiffany.
            Taeyeon masuk ke ruangan sambil menciumi dahi Tiffany dan meneteskan air matanya ke pipi Tiffany. “BANGUN, TIFFANY!! KAU KUAT, AKU YAKIN! KAU INGAT KAN? Kau pernah berkata, bahwa, sebelum aku dan kau mencapai impian kita, kau tak akan mati, kan?! Kau lupa?! Tapi, janji itu sekarang bagaikan pasir yang terhanyut ombak! Maafkan aku, Tiff! BANGUN HWANG, BANGUN!! KAU KUAT!! LALU..... SEHARUSNYA, KAU PENTAS BIOLA HARI INI! Maafkan aku sebesar besarnya, aku tahu, aku telah diperalat oleh semuanya! Tiff! Bangun,” Taeyeon memenggenggam tangan Tiffany yang dingin dan tak lupa menciumi dahi dan pipinya.
            Taeyeon menunggu jawaban Tiffany. Tak ada jawaban, Tiffany pun tak kunjung menjawab. Taeyeon putus asa. “Tiffany, jangan membenci aku... maafkan aku, kumohon... Hari ini bukannya hari yang menyenangkan? Kenapa... malah menjadi hari yang sangat menyedihkan?”
            Taeyeon naik ke ranjang Tiffany dan tidur disamping Tiffany. Mendadak, ia teringat kertas usang yang di genggam Tiffany. Ia membuka perlahan lahan kertas itu.

Taeyeon, aku tahu, ajalku sudah sebentar lagi. Aku sudah merasakannya. Tapi.. kenapa kau malah menjauhi ku? Demi tuhan, Taeng, percayalah bahwa aku tak pernah mencuri. Sekarang aku tahu, semua barang itu ditaruh Hyoyeon, Yuri, YoonA, dan Jessica agar aku dituduh pencuri.
          Maafkan aku, Taeng, aku hanya bisa menjadi beban dan mempermalukanmu. Aku memang tidak berguna 
J. Buktinya, aku dibuang orang tuaku. Dan, ternyata aku memang tipe yang selalu dibenci. Ohya, satu hal, eonni. Aku tak pernah menggambar wajahmu sejelek itu. Ehm, waktu itu aku pingsan karena aku tersandung kulit pisang milikku :D. Jangan khawatir, aku KUAT!! Aku berusaha melawan ajal, ne!!! TIFFANY, FIGHTINGG!!! /’-‘/
          Oh, Lihat di mejaku, aku membuat gambar kita berdua! Maaf kalau jelek. Tae, aku harap kamu membuat surat ini menjadi kenang  kenangan. Aku mencintaimu, Kim Taeyeon, walau kau membenciku. Tak masalah, aku hanya ingin kita menjadi sahabat yang paling akrab sedunia. SARANGHAE KIM TAEYEON, Kakakku :*
-Tiffany Hwang
            “Maafkan aku Tiffany.... aku telah menjadi Kakak yang gagal..., maafkan aku...” Air mata Taeyeon melunturi surat yang Tiffany buat. Taeyeon sangat sedih hari itu. Ia memalingkan pandangan ke dinding dan...

Muncul arwah Tiffany sedang melambaikan tangan ke arah Taeyeon. Ia berbisik.


            “Kau kakak yang terbaik sepanjang masa,” Kemudian ia memainkan biolanya.

Sound Of Biola

“Taeyeon, kau lihat biola milikku?” Tiffany mulai mencari biola kecil miliknya. Ia membuka lemari dan laci dikamar asrama.
            “Tidak, Tiffany, jangan bergerak dulu, lukamu belum sembuh!” Taeyeon mengejar Tiffany— sambil membawa plester—, dan mencoba merekatkannya di dahi Tiffany.
“Jangan menempelkan dulu, aku mau cari biola milikku Eonni, sepertinya tadi kutaruh dekat sini... kok hilang, sih?” Jawab Tiffany. Ia membalikkan bantal dan menemukan Biola Cokelat miliknya. “ah, ini dia!” Tiffany kemudian mengambil biola itu dan memeluknya.
            “Aku harap kau jangan bergerak terus, lukamu belum sembuh, kenapa kau sangat perhatian dengan bi—”
            “Lusa ada konser biola dan aku harus bisa!”
            “Itu lusa, jangan memaksakan diri, ne. Kau bisa sakit dan bisa pingsan terus menerus.” Taeyeon menepuk pundak Tiffany. Tiffany hanya tersenyum dan memeluk Taeyeon. “Aku tahu, sekarang, aku ingin tanya. Kenapa kau sangat perhatian padaku?”
            “Karena kau sahabatku, dan aku sudah menganggapmu adik sendiri, bagaimana denganmu?”
            “Ne, aku juga. Aku sayang Taeyeon eonni, selamanya.” Taeyeon tersenyum dengan mata yang berkaca kaca. Sambil memeluk, ia membatin, aku tahu, Fany, kau begitu sayang padaku, tapi.. aku tak tahu kalau semisalnya hidupmu tinggal beberapa bulan atau tahun lagi. Walaupun kau sakit, dibully, jangan pernah sedih, aku selalu disampingmu dimanapun kau berada.





            Ah— aku lupa memberi tahu nama mereka. Tiffany Hwang, gadis berambut hitam dengan ciri berkuncir dua itu mempunyai fisik yang lemah. Ia sakit - sakitan
semenjak ditinggal Ibu-nya. Ia menderita sakit Kanker Darah atau Leukimia. Se-
dangkan Taeyeon, ia adalah sahabat Tiffany dari bayi hingga dewasa. Taeyeon berambut pirang dengan ciri khas dikuncir satu memiliki fisik yang kuat. Ia sangat sayang pada Tiffany, bahkan, ia selalu berharap bahwa mereka adalah saudara. Taeyeon dan Tiffany adalah yatim piatu yang tinggal di asrama Seoul. Tiffany se-
lalu dibully oleh teman – teman asramanya. Taeyeon yang selalu berada di samping Tiffany merasa bahwa kedudukannya sebagai sahabat Tiffany diremehkan, sehing- ga ia terus membela Tiffany sampai ia luka.
           

“Tiffany, keadaanmu setiap hari semakin memburuk, apa sebaiknya kita tak pergi ke dokter saja?” Taeyeon mengusap lembut kepala Tiffany dan rambut Tiffany mulai rontok. Tiffany yang sedang berbaring di tempat tidur berkata, “Tidak apa apa kok, Tae. Aku sudah kuat, kok! Lihat, aku bisa lompat lompat dan—”
            BRUK! Tiffany melompat dan terpeleset kantong plastik Go Green miliknya. “Auch, bokong-ku!” Tiffany mengelus bokongnya yang terasa sakit karena terantuk lantai kamar asrama.
Taeyeon tertawa, diikuti tawa Tiffany.
            “Dan, lagipula, biaya rumah sakit itu mahal, Taeng, sedangkan aku hanya punya uang dua ratus ribu! Mungkin, kalau dirawat, bisa sampai dua juta!” Sambil berusaha bangun, Tiffany duduk di samping kursi Taeyeon.
            “Lalu... aku sudah cukup dirawat denganmu.” Tiffany mendekatkan kursinya ke wajah Taeyeon. “Tapi, kalau kau dirawat denganku, kau tak akan sembuh! Hiks,” Taeyeon mengangkat tangannya ke arah air yang membasahi pipinya.
            “Jangan menangis, walaupun tak sembuh-sembuh, aku juga sudah senang mendapat kasih sayang dan perawatan dari calon dokter, ehm. Maksudku, doktor Taeng.” Tiffany berdeham sambil terkekeh.
Taeyeon terdiam.
            “Ya, sewaktu-waktu, apabila mimpiku tercapai, aku akan menyembuhkanmu dengan gratis.” Taeyeon menghapus air matanya sambil ikut terkekeh. Ia memegang pipi Tiffany dan mencium dahinya.
            “Aku sayang padamu, Tiff.”
            “Aku juga, Taeng. Tunggu, kau mau tidak, dengarkan aku bermain biola?” Dengan semangat, walaupun ia masih lemas, ia berlari ke biolanya. Taeyeon mengangguk gembira. Tiffany bungkuk dan bermain biolanya.
            Dari kegembiraan Tiffany, aku tahu, hatinya pasti sedang menangis sambil merasakan sakitnya, aku tahu itu. Maafkan aku, Tiff, aku tidak bisa menjadi kakak yang baik untukmu. Taeyeon kembali membatin dan kembali mengeluarkan air mata.


            “Selamat pagi, Tiffany! Kau boleh tidur lagi, dan aku sudah siapkan makanan untuk sarapan, aku pergi ke ruang osis dulu, ya!” Taeyeon membangunkan Tiffany sambil menunjuk ke arah makanan diatas meja. Tiffany mengangguk. “Hati hati, Taeeeng!”
            Taeyeon berlari ke ruang osis dan bertemu dengan Yuri dan Yoona. Maksudnya, Kwon Yuri dan Im YoonA. Taeyeon melambai ke arahnya. “Annyeong, Taeyeon! Hei kau tahu, Tiffany mencuri baju milik Jessica dan jam tangan milik Hyoyeon! Kau, kalau tak percaya lihatlah ke kamar Jessica dan aku, disana banyak anak anak dan Jessica yang sedang menangis karena baju pemberian ayahnya hilang, dicuri Tiffany. Oke, aku dan Yoona pergi ke bawah dulu, ya! Bye!”
            Taeyeon menghentikan langkahnya. Ia kaget, apa benar, Tiffany mencuri baju Jessica dan jam tangan Hyoyeon? Ia memutar badannya dan pergi ke kamar Jessica dan Hyoyeon.

Sesampai –nya di kamar Jessica, Jessica menoleh ke arah Taeyeon dan memeluknya. “Taeng, baju oemberian ayahku dicuri Tiffany... Huhuhu..”
            “Hah? Darimana kau tahu itu?”
            “Kau lihat saja di lemarinya, terdapat baju tulisan ‘IM A QUEEN’ dan terdapat gambar apel di belakangnya.. Huhu...”
            “Tak mungkin, bisa saja, kalau Tiffany membeli baju yang sama denganmu, itu mungkin kan?”

Jessica menggeleng.
            “Itu baju milikku dan hanya ada di Australia dengan harga satu juta. Hiks,hiks!”
Taeyeon mengernyitkan dahi dan mulai percaya dengan Jessica. Kini, ia berubah pikiran, ia sangat benci dengan orang yang menjadi pencuri. Ia membungkuk dan melambai ke Jessica. Ia tak butuh lagi dengan cerita Hyoyeon. Dengan secepat kilat, ia kembali kekamar.

BRAK!!
            “Emak! ...Ehm,  eh, Taeng, gak jadi rapat?” Tiffany meloncat dan segera menjadi latahan.
            “NGGAK.” Dengan dingin, Taeyeon melemparkan tasnya dan segera membuka lemari milik Tiffany. “Ada apa, Eonni? Kok, dingin sih?” Tiffany bangkit dengan lemas dan melihat Taeyeon yang sedang terkaget kaget dengan lemari Tiffany.
Ternyata benar, itu baju milik Jessica! Tiffany memang mencurinya!  “Aku muak denganmu, pencuri!” Taeyeon mengbaskan rambutnya dan berbali ke arah Tiffany. Tiffany terheran heran.
            “Maksudmu?”
            “Aku muak! Kau mencuri baju Jessica, kan?!”
            “Ti—”
            “Aku gak butuh alasan kamu! Dasar pencuri! Ini dia, inikan baju milik Jessica! Tuh, makan bajunya!”
            Taeyeon melempar baju yang dipermasalahkan kepada Tiffany lengkap dengan gantungan kayu-nya. PRAK! Gantungan kayu itu mengenai wajah Tiffany sampai merah. Taeyeon sempat merasa bersalah, tapi, ia segera mengusir pikiran bersalah itu.
            “Tunggu! Tulisan di jam ini... KIM HYOYEON? Pencuri! Kau mencuri jam tangan Hyoyeon, ya?! Aku malu, punya sahabat seperti kau! Enyah saja, pencuri di Seoul!”
            “Kok, bisa ada di aku?! Sungguh, aku tidak... aww!” Tiffany memegangi wajahnya yang terkena gantungan kayu.
            “Sudah, aku mau keluar!” Taeyeon membuka pintu dan segera keluar kamar. Tiffany memperhatikannya. Aku tidak mencuri itu, aku tidak mencuri, aku bukan pencuri! Tiffany mengacak rambutnya dan segera meneteskan air mata.

Lalu, Taeyeon.....
            “Huh, rasakan. Tunggu.... apa aku terlalu berlebihan, ya? Ehm... sepertinya sih, iya. Aku akan minta maaf padanya.” Taeyeon bangkit dari kursi taman setelah beberapa menit ia berfikir.
            Taeyeon berjalan ke arah kamar asrama dan membuka pintu. Terdapat Tiffany yang sedang tersungkur di lantai dan memar memar. Tiffany pingsan! Taeyeon buru buru ke arah Tiffany dan menemukan gambar di samping Tiffany.
            Deg! Taeyeon sangat sebal melihat gambar itu. Di gambar itu, terdapat dirinya yang sangaaat jelek. Taeyeon menjenggut rambut Tiffany sampai beberapa rontok. Taeyeon sangat benci dengan Tiffany sekarang. Ia melemparkan kertas itu ke Tiffany dan meninggalkan Tiffany yang memar memar.


Esok harinya...
Tiffany bangun dan tak menemui siapa siapa di kamarnya. Tak ada makanan, tak ada orang. Seperti kuburan. Ia bangkit dan segara mengingat bahwa hari ini ia harus pergi bermain biola. Ia mandi, dan memakai baju. Benar benar tak ada orang. Taeyeon kemana, ya? Padahal, aku ingin mengajaknya menonton denganku! Batin Tiffany yang membuka pintu asrama.

            BRUK!!
Tiffany terjatuh karena diserengkat oleh seseorang. Ia melihat kebawah, dan terdapat tiga perempuan berbaju hitam dan membawa Tiffany masuk ke kamar asramanya. Tiffany tak bisa berbuat apa apa karena ia sedang lemas.
Tiffanay didorong ke lantai sampai membentur lantai. Salah seorang dari mereka yang berambut cokelat gelap segera melempar Tiffany dengan tongkat Baseball. “Aaaa! Siapa kalian?! Aku... aku ingin segera pergi ke pentas!”
            “JANGAN BANYAK BICARA! TIFFANY... KAU TELAH MEMBUATKU TERSINGKIR DI KURSUS BIOLA DAN KAU INGAT? KAU PERNAH MEMBUAT DUA SAUDARAKU JATUH DARI MOBIL DAN KOMA... KAU INGAT?..”
            “Ah.., kau... kau Yoona?! Tidak, Yoon, aku tak membuat Seohyun dan Sunny terjatuh dari mobil, mereka meloncat loncat dan pintu mobil terbuka, sungguh, aku tak mendorongnya!”
            “ALASAN SAJA! KAU JUGA... TELAH MEMBUAT PRESTASI DALAM MENARIKU MENJADI TURUN DIGANTIKAN OLEHMU... DAN KAU PERNAH MENDORONGKU SAMPAI MASUK KE GOT DIDEPAN DONGHAE...”
            “Kau... Yuri?! Tidak! Aku, waktu itu terdorong! Demi tuhan! Percayalah!”
            “KAU JUGA... KAU TELAH MEMBUATKU PATAH TULANG TANGAN KARENA KAN MENYANDUNGKU SAAT PENTAS SIRKUS...”
            “Sica?! Maaf, saat itu aku tak bermaksud menyandungmu! Aku sedang bermain karet dengan Sooyoung!”
            Segera, biola Tiffany diinjak oleh seseorang berambut pirang. Tiffany dipukuli sampai pingsan. Setelah puas, mereka bertiga kabur meninggalkan Tiffany.

Beberapa saat kemudian.....
            “Aku pulang. ?!!!! Tiffany?!!” Taeyeon menjerit kaget melihat Tiffany tergeletak lemas tak berdaya dengan memar memar, vas bunga pecah, dan air mata mengalir di pipi serta... DARAH.
            “Fany, bangun! Bangun!” Taeyeon menepuk pipi Tiffany yang basah, tapi Tiffany tak bangun juga. Taeyeon meneteskan air matanya sangat deras dan memanggil ambulans.
            Sebelum meninggalkan ruangan, di genggaman tangan Tiffany terdapat kertas usang. Taeyeon tak sempat membaca. Ia panik dan segera menggotong Tiffany ke arah ambulans.
Di Rumah Sakit...

            “Kim Taeyeon, maafkan kami, kami sudah berusaha sekuat mungkin. Tapi, Nyonya Tiffany tak kunjung sembuh. Ia mengalami leukimia stadium dua, dan pukulan yang keras di kepalanya. Maafkan kami,” Doktor CL memberi tahu keadaan Tiffany dengan suster Minzy.
            “Jadi... maksud dokter.... Tiffany... meninggal?”
            Dokter CL dan suster Minzy saling menatap dangan mengangguk. Taeyeon hampir mati ditempat. Ia menangis, berteriak, dan memukul mukul wajahnya sendiri. Mungkin, beberapa orang yang lewat mengatakan bahwa Taeyeon adalah orang gi- la.
            “AKU BODOH! AKU TAU, TIFFANY PASTI TAK AKAN MELAKUKANNYA! KINI, IA MATI! INI SALAHKU! EOMMA HUAAAA! 
L” Taeyeon menangis deras menutupi wajahnya. Ia sangat kesal dengan dirinya dan orang yang memukuli Tiffany.
            Taeyeon masuk ke ruangan sambil menciumi dahi Tiffany dan meneteskan air matanya ke pipi Tiffany. “BANGUN, TIFFANY!! KAU KUAT, AKU YAKIN! KAU INGAT KAN? Kau pernah berkata, bahwa, sebelum aku dan kau mencapai impian kita, kau tak akan mati, kan?! Kau lupa?! Tapi, janji itu sekarang bagaikan pasir yang terhanyut ombak! Maafkan aku, Tiff! BANGUN HWANG, BANGUN!! KAU KUAT!! LALU..... SEHARUSNYA, KAU PENTAS BIOLA HARI INI! Maafkan aku sebesar besarnya, aku tahu, aku telah diperalat oleh semuanya! Tiff! Bangun,” Taeyeon memenggenggam tangan Tiffany yang dingin dan tak lupa menciumi dahi dan pipinya.
            Taeyeon menunggu jawaban Tiffany. Tak ada jawaban, Tiffany pun tak kunjung menjawab. Taeyeon putus asa. “Tiffany, jangan membenci aku... maafkan aku, kumohon... Hari ini bukannya hari yang menyenangkan? Kenapa... malah menjadi hari yang sangat menyedihkan?”
            Taeyeon naik ke ranjang Tiffany dan tidur disamping Tiffany. Mendadak, ia teringat kertas usang yang di genggam Tiffany. Ia membuka perlahan lahan kertas itu.

Taeyeon, aku tahu, ajalku sudah sebentar lagi. Aku sudah merasakannya. Tapi.. kenapa kau malah menjauhi ku? Demi tuhan, Taeng, percayalah bahwa aku tak pernah mencuri. Sekarang aku tahu, semua barang itu ditaruh Hyoyeon, Yuri, YoonA, dan Jessica agar aku dituduh pencuri.
          Maafkan aku, Taeng, aku hanya bisa menjadi beban dan mempermalukanmu. Aku memang tidak berguna 
J. Buktinya, aku dibuang orang tuaku. Dan, ternyata aku memang tipe yang selalu dibenci. Ohya, satu hal, eonni. Aku tak pernah menggambar wajahmu sejelek itu. Ehm, waktu itu aku pingsan karena aku tersandung kulit pisang milikku :D. Jangan khawatir, aku KUAT!! Aku berusaha melawan ajal, ne!!! TIFFANY, FIGHTINGG!!! /’-‘/
          Oh, Lihat di mejaku, aku membuat gambar kita berdua! Maaf kalau jelek. Tae, aku harap kamu membuat surat ini menjadi kenang  kenangan. Aku mencintaimu, Kim Taeyeon, walau kau membenciku. Tak masalah, aku hanya ingin kita menjadi sahabat yang paling akrab sedunia. SARANGHAE KIM TAEYEON, Kakakku :*
-Tiffany Hwang
            “Maafkan aku Tiffany.... aku telah menjadi Kakak yang gagal..., maafkan aku...” Air mata Taeyeon melunturi surat yang Tiffany buat. Taeyeon sangat sedih hari itu. Ia memalingkan pandangan ke dinding dan...

Muncul arwah Tiffany sedang melambaikan tangan ke arah Taeyeon. Ia berbisik.


            “Kau kakak yang terbaik sepanjang masa,” Kemudian ia memainkan biolanya.

Sound Of Biola

“Taeyeon, kau lihat biola milikku?” Tiffany mulai mencari biola kecil miliknya. Ia membuka lemari dan laci dikamar asrama.
            “Tidak, Tiffany, jangan bergerak dulu, lukamu belum sembuh!” Taeyeon mengejar Tiffany— sambil membawa plester—, dan mencoba merekatkannya di dahi Tiffany.
“Jangan menempelkan dulu, aku mau cari biola milikku Eonni, sepertinya tadi kutaruh dekat sini... kok hilang, sih?” Jawab Tiffany. Ia membalikkan bantal dan menemukan Biola Cokelat miliknya. “ah, ini dia!” Tiffany kemudian mengambil biola itu dan memeluknya.
            “Aku harap kau jangan bergerak terus, lukamu belum sembuh, kenapa kau sangat perhatian dengan bi—”
            “Lusa ada konser biola dan aku harus bisa!”
            “Itu lusa, jangan memaksakan diri, ne. Kau bisa sakit dan bisa pingsan terus menerus.” Taeyeon menepuk pundak Tiffany. Tiffany hanya tersenyum dan memeluk Taeyeon. “Aku tahu, sekarang, aku ingin tanya. Kenapa kau sangat perhatian padaku?”
            “Karena kau sahabatku, dan aku sudah menganggapmu adik sendiri, bagaimana denganmu?”
            “Ne, aku juga. Aku sayang Taeyeon eonni, selamanya.” Taeyeon tersenyum dengan mata yang berkaca kaca. Sambil memeluk, ia membatin, aku tahu, Fany, kau begitu sayang padaku, tapi.. aku tak tahu kalau semisalnya hidupmu tinggal beberapa bulan atau tahun lagi. Walaupun kau sakit, dibully, jangan pernah sedih, aku selalu disampingmu dimanapun kau berada.





            Ah— aku lupa memberi tahu nama mereka. Tiffany Hwang, gadis berambut hitam dengan ciri berkuncir dua itu mempunyai fisik yang lemah. Ia sakit - sakitan
semenjak ditinggal Ibu-nya. Ia menderita sakit Kanker Darah atau Leukimia. Se-
dangkan Taeyeon, ia adalah sahabat Tiffany dari bayi hingga dewasa. Taeyeon berambut pirang dengan ciri khas dikuncir satu memiliki fisik yang kuat. Ia sangat sayang pada Tiffany, bahkan, ia selalu berharap bahwa mereka adalah saudara. Taeyeon dan Tiffany adalah yatim piatu yang tinggal di asrama Seoul. Tiffany se-
lalu dibully oleh teman – teman asramanya. Taeyeon yang selalu berada di samping Tiffany merasa bahwa kedudukannya sebagai sahabat Tiffany diremehkan, sehing- ga ia terus membela Tiffany sampai ia luka.
           

“Tiffany, keadaanmu setiap hari semakin memburuk, apa sebaiknya kita tak pergi ke dokter saja?” Taeyeon mengusap lembut kepala Tiffany dan rambut Tiffany mulai rontok. Tiffany yang sedang berbaring di tempat tidur berkata, “Tidak apa apa kok, Tae. Aku sudah kuat, kok! Lihat, aku bisa lompat lompat dan—”
            BRUK! Tiffany melompat dan terpeleset kantong plastik Go Green miliknya. “Auch, bokong-ku!” Tiffany mengelus bokongnya yang terasa sakit karena terantuk lantai kamar asrama.
Taeyeon tertawa, diikuti tawa Tiffany.
            “Dan, lagipula, biaya rumah sakit itu mahal, Taeng, sedangkan aku hanya punya uang dua ratus ribu! Mungkin, kalau dirawat, bisa sampai dua juta!” Sambil berusaha bangun, Tiffany duduk di samping kursi Taeyeon.
            “Lalu... aku sudah cukup dirawat denganmu.” Tiffany mendekatkan kursinya ke wajah Taeyeon. “Tapi, kalau kau dirawat denganku, kau tak akan sembuh! Hiks,” Taeyeon mengangkat tangannya ke arah air yang membasahi pipinya.
            “Jangan menangis, walaupun tak sembuh-sembuh, aku juga sudah senang mendapat kasih sayang dan perawatan dari calon dokter, ehm. Maksudku, doktor Taeng.” Tiffany berdeham sambil terkekeh.
Taeyeon terdiam.
            “Ya, sewaktu-waktu, apabila mimpiku tercapai, aku akan menyembuhkanmu dengan gratis.” Taeyeon menghapus air matanya sambil ikut terkekeh. Ia memegang pipi Tiffany dan mencium dahinya.
            “Aku sayang padamu, Tiff.”
            “Aku juga, Taeng. Tunggu, kau mau tidak, dengarkan aku bermain biola?” Dengan semangat, walaupun ia masih lemas, ia berlari ke biolanya. Taeyeon mengangguk gembira. Tiffany bungkuk dan bermain biolanya.
            Dari kegembiraan Tiffany, aku tahu, hatinya pasti sedang menangis sambil merasakan sakitnya, aku tahu itu. Maafkan aku, Tiff, aku tidak bisa menjadi kakak yang baik untukmu. Taeyeon kembali membatin dan kembali mengeluarkan air mata.


            “Selamat pagi, Tiffany! Kau boleh tidur lagi, dan aku sudah siapkan makanan untuk sarapan, aku pergi ke ruang osis dulu, ya!” Taeyeon membangunkan Tiffany sambil menunjuk ke arah makanan diatas meja. Tiffany mengangguk. “Hati hati, Taeeeng!”
            Taeyeon berlari ke ruang osis dan bertemu dengan Yuri dan Yoona. Maksudnya, Kwon Yuri dan Im YoonA. Taeyeon melambai ke arahnya. “Annyeong, Taeyeon! Hei kau tahu, Tiffany mencuri baju milik Jessica dan jam tangan milik Hyoyeon! Kau, kalau tak percaya lihatlah ke kamar Jessica dan aku, disana banyak anak anak dan Jessica yang sedang menangis karena baju pemberian ayahnya hilang, dicuri Tiffany. Oke, aku dan Yoona pergi ke bawah dulu, ya! Bye!”
            Taeyeon menghentikan langkahnya. Ia kaget, apa benar, Tiffany mencuri baju Jessica dan jam tangan Hyoyeon? Ia memutar badannya dan pergi ke kamar Jessica dan Hyoyeon.

Sesampai –nya di kamar Jessica, Jessica menoleh ke arah Taeyeon dan memeluknya. “Taeng, baju oemberian ayahku dicuri Tiffany... Huhuhu..”
            “Hah? Darimana kau tahu itu?”
            “Kau lihat saja di lemarinya, terdapat baju tulisan ‘IM A QUEEN’ dan terdapat gambar apel di belakangnya.. Huhu...”
            “Tak mungkin, bisa saja, kalau Tiffany membeli baju yang sama denganmu, itu mungkin kan?”

Jessica menggeleng.
            “Itu baju milikku dan hanya ada di Australia dengan harga satu juta. Hiks,hiks!”
Taeyeon mengernyitkan dahi dan mulai percaya dengan Jessica. Kini, ia berubah pikiran, ia sangat benci dengan orang yang menjadi pencuri. Ia membungkuk dan melambai ke Jessica. Ia tak butuh lagi dengan cerita Hyoyeon. Dengan secepat kilat, ia kembali kekamar.

BRAK!!
            “Emak! ...Ehm,  eh, Taeng, gak jadi rapat?” Tiffany meloncat dan segera menjadi latahan.
            “NGGAK.” Dengan dingin, Taeyeon melemparkan tasnya dan segera membuka lemari milik Tiffany. “Ada apa, Eonni? Kok, dingin sih?” Tiffany bangkit dengan lemas dan melihat Taeyeon yang sedang terkaget kaget dengan lemari Tiffany.
Ternyata benar, itu baju milik Jessica! Tiffany memang mencurinya!  “Aku muak denganmu, pencuri!” Taeyeon mengbaskan rambutnya dan berbali ke arah Tiffany. Tiffany terheran heran.
            “Maksudmu?”
            “Aku muak! Kau mencuri baju Jessica, kan?!”
            “Ti—”
            “Aku gak butuh alasan kamu! Dasar pencuri! Ini dia, inikan baju milik Jessica! Tuh, makan bajunya!”
            Taeyeon melempar baju yang dipermasalahkan kepada Tiffany lengkap dengan gantungan kayu-nya. PRAK! Gantungan kayu itu mengenai wajah Tiffany sampai merah. Taeyeon sempat merasa bersalah, tapi, ia segera mengusir pikiran bersalah itu.
            “Tunggu! Tulisan di jam ini... KIM HYOYEON? Pencuri! Kau mencuri jam tangan Hyoyeon, ya?! Aku malu, punya sahabat seperti kau! Enyah saja, pencuri di Seoul!”
            “Kok, bisa ada di aku?! Sungguh, aku tidak... aww!” Tiffany memegangi wajahnya yang terkena gantungan kayu.
            “Sudah, aku mau keluar!” Taeyeon membuka pintu dan segera keluar kamar. Tiffany memperhatikannya. Aku tidak mencuri itu, aku tidak mencuri, aku bukan pencuri! Tiffany mengacak rambutnya dan segera meneteskan air mata.

Lalu, Taeyeon.....
            “Huh, rasakan. Tunggu.... apa aku terlalu berlebihan, ya? Ehm... sepertinya sih, iya. Aku akan minta maaf padanya.” Taeyeon bangkit dari kursi taman setelah beberapa menit ia berfikir.
            Taeyeon berjalan ke arah kamar asrama dan membuka pintu. Terdapat Tiffany yang sedang tersungkur di lantai dan memar memar. Tiffany pingsan! Taeyeon buru buru ke arah Tiffany dan menemukan gambar di samping Tiffany.
            Deg! Taeyeon sangat sebal melihat gambar itu. Di gambar itu, terdapat dirinya yang sangaaat jelek. Taeyeon menjenggut rambut Tiffany sampai beberapa rontok. Taeyeon sangat benci dengan Tiffany sekarang. Ia melemparkan kertas itu ke Tiffany dan meninggalkan Tiffany yang memar memar.


Esok harinya...
Tiffany bangun dan tak menemui siapa siapa di kamarnya. Tak ada makanan, tak ada orang. Seperti kuburan. Ia bangkit dan segara mengingat bahwa hari ini ia harus pergi bermain biola. Ia mandi, dan memakai baju. Benar benar tak ada orang. Taeyeon kemana, ya? Padahal, aku ingin mengajaknya menonton denganku! Batin Tiffany yang membuka pintu asrama.

            BRUK!!
Tiffany terjatuh karena diserengkat oleh seseorang. Ia melihat kebawah, dan terdapat tiga perempuan berbaju hitam dan membawa Tiffany masuk ke kamar asramanya. Tiffany tak bisa berbuat apa apa karena ia sedang lemas.
Tiffanay didorong ke lantai sampai membentur lantai. Salah seorang dari mereka yang berambut cokelat gelap segera melempar Tiffany dengan tongkat Baseball. “Aaaa! Siapa kalian?! Aku... aku ingin segera pergi ke pentas!”
            “JANGAN BANYAK BICARA! TIFFANY... KAU TELAH MEMBUATKU TERSINGKIR DI KURSUS BIOLA DAN KAU INGAT? KAU PERNAH MEMBUAT DUA SAUDARAKU JATUH DARI MOBIL DAN KOMA... KAU INGAT?..”
            “Ah.., kau... kau Yoona?! Tidak, Yoon, aku tak membuat Seohyun dan Sunny terjatuh dari mobil, mereka meloncat loncat dan pintu mobil terbuka, sungguh, aku tak mendorongnya!”
            “ALASAN SAJA! KAU JUGA... TELAH MEMBUAT PRESTASI DALAM MENARIKU MENJADI TURUN DIGANTIKAN OLEHMU... DAN KAU PERNAH MENDORONGKU SAMPAI MASUK KE GOT DIDEPAN DONGHAE...”
            “Kau... Yuri?! Tidak! Aku, waktu itu terdorong! Demi tuhan! Percayalah!”
            “KAU JUGA... KAU TELAH MEMBUATKU PATAH TULANG TANGAN KARENA KAN MENYANDUNGKU SAAT PENTAS SIRKUS...”
            “Sica?! Maaf, saat itu aku tak bermaksud menyandungmu! Aku sedang bermain karet dengan Sooyoung!”
            Segera, biola Tiffany diinjak oleh seseorang berambut pirang. Tiffany dipukuli sampai pingsan. Setelah puas, mereka bertiga kabur meninggalkan Tiffany.

Beberapa saat kemudian.....
            “Aku pulang. ?!!!! Tiffany?!!” Taeyeon menjerit kaget melihat Tiffany tergeletak lemas tak berdaya dengan memar memar, vas bunga pecah, dan air mata mengalir di pipi serta... DARAH.
            “Fany, bangun! Bangun!” Taeyeon menepuk pipi Tiffany yang basah, tapi Tiffany tak bangun juga. Taeyeon meneteskan air matanya sangat deras dan memanggil ambulans.
            Sebelum meninggalkan ruangan, di genggaman tangan Tiffany terdapat kertas usang. Taeyeon tak sempat membaca. Ia panik dan segera menggotong Tiffany ke arah ambulans.
Di Rumah Sakit...

            “Kim Taeyeon, maafkan kami, kami sudah berusaha sekuat mungkin. Tapi, Nyonya Tiffany tak kunjung sembuh. Ia mengalami leukimia stadium dua, dan pukulan yang keras di kepalanya. Maafkan kami,” Doktor CL memberi tahu keadaan Tiffany dengan suster Minzy.
            “Jadi... maksud dokter.... Tiffany... meninggal?”
            Dokter CL dan suster Minzy saling menatap dangan mengangguk. Taeyeon hampir mati ditempat. Ia menangis, berteriak, dan memukul mukul wajahnya sendiri. Mungkin, beberapa orang yang lewat mengatakan bahwa Taeyeon adalah orang gi- la.
            “AKU BODOH! AKU TAU, TIFFANY PASTI TAK AKAN MELAKUKANNYA! KINI, IA MATI! INI SALAHKU! EOMMA HUAAAA! 
L” Taeyeon menangis deras menutupi wajahnya. Ia sangat kesal dengan dirinya dan orang yang memukuli Tiffany.
            Taeyeon masuk ke ruangan sambil menciumi dahi Tiffany dan meneteskan air matanya ke pipi Tiffany. “BANGUN, TIFFANY!! KAU KUAT, AKU YAKIN! KAU INGAT KAN? Kau pernah berkata, bahwa, sebelum aku dan kau mencapai impian kita, kau tak akan mati, kan?! Kau lupa?! Tapi, janji itu sekarang bagaikan pasir yang terhanyut ombak! Maafkan aku, Tiff! BANGUN HWANG, BANGUN!! KAU KUAT!! LALU..... SEHARUSNYA, KAU PENTAS BIOLA HARI INI! Maafkan aku sebesar besarnya, aku tahu, aku telah diperalat oleh semuanya! Tiff! Bangun,” Taeyeon memenggenggam tangan Tiffany yang dingin dan tak lupa menciumi dahi dan pipinya.
            Taeyeon menunggu jawaban Tiffany. Tak ada jawaban, Tiffany pun tak kunjung menjawab. Taeyeon putus asa. “Tiffany, jangan membenci aku... maafkan aku, kumohon... Hari ini bukannya hari yang menyenangkan? Kenapa... malah menjadi hari yang sangat menyedihkan?”
            Taeyeon naik ke ranjang Tiffany dan tidur disamping Tiffany. Mendadak, ia teringat kertas usang yang di genggam Tiffany. Ia membuka perlahan lahan kertas itu.

Taeyeon, aku tahu, ajalku sudah sebentar lagi. Aku sudah merasakannya. Tapi.. kenapa kau malah menjauhi ku? Demi tuhan, Taeng, percayalah bahwa aku tak pernah mencuri. Sekarang aku tahu, semua barang itu ditaruh Hyoyeon, Yuri, YoonA, dan Jessica agar aku dituduh pencuri.
          Maafkan aku, Taeng, aku hanya bisa menjadi beban dan mempermalukanmu. Aku memang tidak berguna 
J. Buktinya, aku dibuang orang tuaku. Dan, ternyata aku memang tipe yang selalu dibenci. Ohya, satu hal, eonni. Aku tak pernah menggambar wajahmu sejelek itu. Ehm, waktu itu aku pingsan karena aku tersandung kulit pisang milikku :D. Jangan khawatir, aku KUAT!! Aku berusaha melawan ajal, ne!!! TIFFANY, FIGHTINGG!!! /’-‘/
          Oh, Lihat di mejaku, aku membuat gambar kita berdua! Maaf kalau jelek. Tae, aku harap kamu membuat surat ini menjadi kenang  kenangan. Aku mencintaimu, Kim Taeyeon, walau kau membenciku. Tak masalah, aku hanya ingin kita menjadi sahabat yang paling akrab sedunia. SARANGHAE KIM TAEYEON, Kakakku :*
-Tiffany Hwang
            “Maafkan aku Tiffany.... aku telah menjadi Kakak yang gagal..., maafkan aku...” Air mata Taeyeon melunturi surat yang Tiffany buat. Taeyeon sangat sedih hari itu. Ia memalingkan pandangan ke dinding dan...

Muncul arwah Tiffany sedang melambaikan tangan ke arah Taeyeon. Ia berbisik.


            “Kau kakak yang terbaik sepanjang masa,” Kemudian ia memainkan biolanya.